Tuesday, September 27, 2011
Monday, September 26, 2011
Karawang Metal Fest #3 "Siapa Bilang Kami Sudah Mati..?"
Saya mohon maaf sebelumnya karena
baru ngereview acara Karawang Metal Fest
#3 minggu 18 September 2011, ok langsung aja bray…!!
Seperti biasa acara molor sampai
12.30 siang dari semula di jadwalkan pukul 10.00, di karenakan kurang professionalnya band peserta yang bermain di
awal acara, kurang lebih hampir pukul
13.00 acara baru di mulai walau cuaca agak panas (bukan agak lagi tapi
puuanass), pada akhirnya Opposite Day salah satu band Hardcore
karawang membuka gelaran Karawang Metal
Fest #3 dengan mengusung 3 buah lagu, di lanjutkan dengan Fuck
My head.
Cuaca agak redup dan awan menjadi
mendung yang cuma sebentar dan hujan pun tak jadi turun.. huh.. (tapi repot
juga kalo hujan), disusul oleh Karat (Bukan Karinding Attack-Bandung) dengan kostum bertopeng, setelah Karat ada The Last Burning di belakang mereka ada Butterlies dua cover dari Lamb of God di libasnya, di lanjut band dengan nama
yang unik Aya Aya Wae yang
lumayan membuat penonton berkumpul di
tengah-tengah mosh pit.
Menjelang sore ada Brain
Disorder menghantam beberapa cover dari Burgerkill setelah itu ada band
brutal death metal dari Jakarta Devour The Damned langsung
menghentakan beberapa lagunya, suasana sore dan tidak terlalu panas para metal
head di suguhi oleh tontonan kesenian sunda yang di bawakan oleh teman-teman
dari Sapu
Jagad seperti Celempung, Karinding, Suling yang membuat acara Karawang Metal Fest #3 berbeda dari
sebelumnya, selanjutnya ada band deathmetal dari bekasi Decry Victims di ikuti
oleh Babi
Muntah salah satu band Brutal Deathmetal yang ada di Karawang, di
penghujung sore sebelum rehat maghrib ada Symphony Hitam dan setelah itu acara
rehat kurang lebih 1,5 jam dan di mulai kembali pukul 19.30 WIB.
Setelah Rehat yang cukup lama
acara di lanjut kembali dengan penampilan pertama dari Riewa di geber kembali
oleh
Jeproot di lanjut oleh Jeritan Iblis di susul kembali oleh band Old school Hardcore
Karedock
leunca selanjutnya ada band nyiksa diri di hantam kembali di hari
yg sudah semakin gelap oleh Before Tomorrow berlanjut lagi dari
penampilan Nerro.
Setelah penampilan dari Nerro
penampilan dari Beside band metal dari bandung dengan promo lagu barunya
membuat suasana menjadi kian mantap setelah beside ada Pantoera band progressive
metal yg di tunggu tunggu dari tadi oleh para metal head karawang dengan single
covernya “Jablay From Hell” di lanjut oleh band death metal yg sudah malang
melintang di dunia bawah tanah Kolobos
5 lagu di suguhkan dengan brutal.
Akhirnya jam sudah menunjukan
pukul 10.30 WIB dan Karawang Metal Fest
#3 pun berakhir acara yg membuat komunitas di karawang tetap bertahan dan
mdah-mudahan acara seperti ini terus berlanjut di daerah-daerah karawang dan
sekitarnya sampai ketemu lagi di acara metal fest selanjutnya di kota karawang….
Keep support your local scene… salut buat anak-anak karawang
Burgerkill Sudah Melunasi Semua Kewajiban
MEREKA SUDAH LAYAK DITAHBISKAN SEBAGAI BAND TERBAIK DI TANAH
AIR. DAN KEMARIN MEREKA BARU SAJA MELUNASI SEBUAH KEWAJIBAN PENTING.
GOD DAMN… konser itu tidak meleset satu derajat pun
dari ekspektasi. Konsep yang digodok dengan sangat anjrittt menghasilkan
suguhkan yang anjrittt pula. Histeria massal terus menggelora dari lagu
ke lagu. Kaki para begundal pun seperti dipaku di atas rumput Stadion
Siliwangi ketika Vicky, Eben, Agung, Ramdhan, dan Andris, menyudahi
Venomous Alive tepat ketika jarum jam menjejak di titik 17.30 WIB, Sabtu
(24/9) itu. Sebagian dari mereka masih bertahan sampai hari habis
ditelan malam, padahal seluruh personel Burgerkill sudah lama menghilang
dari atas panggung.
Apa mau dikata, Burgerkill memang sudah lama dikenal sebagai biang
kesempurnaan. Mereka seolah-olah tidak pernah membikin sesuatu yang
tidak bagus. Album Venomous adalah sebuah katarsis yang sangat elegan
untuk menanggalkan identitas lama Burgerkill yang amat lekat dengan
sosok Ivan Scumbag, dan bersulih jadi Burgerkill baru yang tidak kalah
keren. Dan, suguhan mereka dalam balutan Venomous Alive di Stadion
Siliwangi itu boleh diibaratkan sebuah ejakulasi maksimal dalam
rangkaian morse seksualitas sejak album pertama itu baru serupa rumor
sampai mengejawantah jadi bentuk kepingan CD.
Tentu saja Burgerkill teramat layak merasa puas dengan ejakulasi yang
mereka alami di atas rumput Stadion Siliwangi petang itu. Dan pula
semua yang hadir, termasuk orang tua dan keluarga besar masing-masing
personel. Sebab, dengan Venomous Alive, Burgerkill telah menunaikan satu
kewajiban penting sebagai sebuah band besar, yakni menggelar konser
tunggal.
Tidak ada sedikit pun spasi yang membuat Venomous Alive harus
mendapat kredit negatif. Sebab, kalaupun ada, itu pasti bakal tertutupi
oleh aksi tuntas Burgerkill selama dua jam lebih. Penonton seperti
merasa masih lapar ketika Burgerkill menyuguhkan santapan terakhir
berupa kolaborasi anjisss dengan Arian 13 saat membawakan lagu Atur Aku.
Dan itulah tanda-tanda bahwa apa yang mereka sajikan — jika diibaratkan
sebuah pesta jamuan makan —- semuanya serba lezat.
Dengan Venomous Alive barangkali Burgerkill tak perlu lagi melakukan
apa pun untuk tetap mempertahankan imej mereka sebagai band metal
terbaik sepanjang masa di negeri ini. Namun, bukan Burgerkill jika
merasa puas dengan apa yang mereka genggang hari ini. “Tentu saja kami
sangat sangat sangat puas dengan pencapaian ini. Tapi, kami tidak akan
berpuas diri,” ucap Eben usai konser.
Eben kemudian menuturkan sejumlah mimpi yang bakal mereka rajut
setelah merilis Venomous dan menggelar ritual istimewa dalam rangka
peluncuran album tersebut. Salah satunya ingin mengembangkan sayap
Burgerkill jadi band internasional. “Mungkin sudah waktunya kita
memikirkan sesuatu yang lebih besar lagi. Kami ingin juga diakui di
dunia yang lebih luas,” imbuh Eben.
Lho bukankah selama ini mereka sudah pernah menggelar tur Asia
Tenggara dan mengecap panggung internasional seperti Soundwave Festival
2009 serta Big Day Out 2010 di Australia? “Belum! Kami belum puas dengan
itu. Kami ingin juga merambah Eropa dan Amerika. Dan kami merasa mampu
untuk melakukannya. Hidup itu harus rock n roll, brader. Jika kita tidak
merasa yakin dengan kemampuan kita, maka kita tidak akan bisa meraih
apa yang kita impikan,” sembur Eben lagi.
SEBUAH PENTAHBISAN
Lalu apa makna paling penting Venomous Alive buat Burgekill? Yeahhh…
sosok ini adalah orang paling tepat untuk dijadikan tempat bertanya:
Arian 13. Mantan vokalis Puppen yang sekarang mengibarkan penjor
Seringai ini termasuk salah satu orang yang ada di samping Burgerkill
sejak band ini meniti karir. Tapi, Arian tetaplah ‘orang luar’ yang bisa
menyodorkan perspektif lebih obyektif mengenai Burgerkill hari ini,
khususnya untuk album Venomous dan Venomous Alive.
“Di mata saya Burgerkill adalah band goreng patut! Sudah itu saja!” ungkap Arian. “Hahahaha… heureuy bray!” tambah Arian sambil tergelak.
Di mata Arian, Burgerkill sudah memenuhi seluruh aspek untuk ditahbiskan sebagai salah satu band metal terbaik di tanah air. “Apa mau dikata, mereka sudah memiliki dan melakukan semuanya sebagai sebuah band,” cetus Arian.
Kalaupun ada yang harus dikritik, menurut Arian, adalah soal waktu pencapaian tersebut. “Dari dulu saya sudah yakin Burgerkill akan jadi band besar. Tapi seharusnya mereka sudah mencapai apa yang mereka gapai hari ini ketika umur Burgerkill menginjak bilangan ketujuh. Bukan 16 tahun seperti sekarang,” papar Arian.
Namun, Arian bisa mentolerir urusan waktu tersebut. Sebab, lanjut Arian, ada sejumlah variabel yang membuat Burgerkill baru bisa mencapai level kesuksesan ketika menginjak usia 16 tahun. “Kita tahu sendiri bagaimana sikap lingkungan kita terhadap band-band seperti Burgerkill. Andai saja Burgerkill tumbuh di habitat yang mampu memberikan dukungan lebih baik, mereka sudah mencapai level kesuksesan seperti ini sepuluh tahun lalu. Masih untung juga Burgerkill punya kekuatan luar biasa untuk menyiasati seluruh persoalan tersebut dan hari ini mereka mencapai titik seperti ini,” terang Arian.
Jika Burgerkill sudah memiliki dan melakukan semuanya, lalu apa lagi yang harus mereka perbuat di hari esok? “Secara musik mereka tetap harus melakukan perubahan. Tentu saja bukan dalam rangka kompromi, melainkan untuk sebuah tuntutan progres. Sebab bagaimanapun perubahan adalah progres,” tandas Arian.
Hardcore Stage
HARDCORE STAGE MUNGKIN BISA JADI PERETAS UNTUK GIGS LAIN DI TEMPAT INI.
SATU lagi tempat alternatif yang bisa dijadikan
venue menggelar gigs. Dan jangan heran jika tempat itu masih bernuansa
militer. Setelah Yon Zipur Ujungberung, Yon Armed Cimahi, dan Lapangan
Brigif Kujang, satu lagi tempat milik institusi militer yang bisa
digunakan untuk menghelat hajat musik bawah tanah.
Hardcore Stage sudah membuktikannya. Panitia mendapatkan Aula Satata
Sariksa, Komplek Resimen II, di Jalan Gudang Utara No 9A, Bandung.
“Sebelumnya kita hendak menggelar gigs ini di Kampus Universitas
Widyatama. Tapi akhirnya dialihkan ke sini,” ungkap Igonk dari Hood
Conspirasi yang menggegas Hardcore Stage.
Sesuai dengan tajuknya, gigs ini memang diproyeksikan untuk penggila
hardcore. Nyaris seluruh perwakilan band hardcore dari berbagai
generasi, memastikan diri untuk ikut ambil bagian dalam gigs ini. Bukan
hanya dari, ada enam band dari luar kota yang bakal berbagi keringat di
Hardcore Stage.
Nonton gigs di tempat yang relatif baru tentu akan memberi sensasi tersendiri. Be fucking there, Familia!
HARDCORE STAGE
TEMPAT
Aula Satata Sariksa Resimen II
Jln. Gudang Utara No. 94 (dekat Stadion Siliwangi)
Aula Satata Sariksa Resimen II
Jln. Gudang Utara No. 94 (dekat Stadion Siliwangi)
WAKTU
Minggu, 25 September 2011
Pukul 11.00 – 21.00 WIB
Minggu, 25 September 2011
Pukul 11.00 – 21.00 WIB
TIKET
Pre-sale Rp 20.000
On the spot Rp 30.000 (bonus sticker/flyer event)
Pre-sale Rp 20.000
On the spot Rp 30.000 (bonus sticker/flyer event)
TICKET BOX PRESALE
Hoods Conspiracy Shop
Arena
Linoleum
Equal
Kehed
Hoods Conspiracy Shop
Arena
Linoleum
Equal
Kehed
Friday, September 23, 2011
OPETH Targetkan Penjualan 15 Ribu Keping Di Minggu Pertama
Stockholm, Swedia – Band progressive metal OPETH merilis album baru “Heritage”
yang sebenarnya sudah beredar dari tanggal 14 September kemarin namun
baru akan rilis di Amerika tanggal 20 September lalu via Roadrunner
Music. Bicara soal target, band yang terbentuk 21 tahun lalu ini juga
yakin kalau dalam minggu pertamanya rilis di Amerika akan terjual
sedikitnya 15 ribu keping.
OPETH
Target penjualan ini terbilang lebih sedikit jika membandingkan hasil rilisan album sebelumnya, “Watershed” dirilis tahun 2008 mampu terjual hingga lebih dari 19 ribu keping dalam satu minggu pertama dan mendudukkan OPETH di peringkat 23 chart Billboard 200.
“Heritage” diproduseri sendiri oleh vokalis/gitaris
mereka, Mikael Åkerfeldt yang direkam awal tahun di Studio Atlantis atau
yang dulunya bernama Metronome terletak di ibukota Swedia, Stockholm.
Proses mixing ditangani Steven Wilson sementara untuk artistik kover
album kembali dipercayakan pada Travis Smith dengan bantuan inspirasi
Åkerfeldt.
Dan berikut susunan lagu album baru mereka:
01. Heritage
02. The Devil’s Orchard
03. I Feel The Dark
04. Slither
05. Nepenthe
06. Häxprocess
07. Famine
08. The Lines In My Hand
09. Folklore
10. Marrow Of The Earth
01. Heritage
02. The Devil’s Orchard
03. I Feel The Dark
04. Slither
05. Nepenthe
06. Häxprocess
07. Famine
08. The Lines In My Hand
09. Folklore
10. Marrow Of The Earth
“Tapi aku berharap orang-orang akan suka dengan apa yang kami
tawarkan sekarang ini. Sulit untuk merepresntasikannya apakah seperti
ini atau seperti itu. Tidak ada lagu yang berdiri sendiri karena kamu
tidak dapat mendengar satu lagu kemudian menjadi kesimpulan untuk album
ini,” katanya.
Sementara itu tanggal 10 Juni kemarin di dekat kota Manchester, Inggris OPETH mendebutkan
keyboardist Joakim Svalberg menjadi keyboardist baru mereka
menggantikan Per Wilberg yang memutus diri keluar dari band bulan April
lalu. Joakim Svalberg bukan nama sembarangan karena dia juga pernah
menjadi keyboardist untuk TIAMAT, Yngwie Malmsten dan juga Glenn Hughes.
[berontakzine.com]
Tori Amos Bicara Soal Metal Dan Ingin Menjadi Metalhead
North Carolina, USA - Penyanyi, penulis lagu dan
pianis eksentrik Tori Amos yang pernah menjadi nominator pemenang
Grammy dan MTV Video Music Award dan baru merilis album “Night Of Hunters” kepada Spinner.com mengaku tidak heran untuk memahami kenapa bintang wrestling Mick Foley sangat menyukai musik metal.
Tori Amos mengklaim musiknya juga memiliki tingkat emosi yang lebih
bertenaga dibanding dengan band metal paling cadas di dunia ini.
![]() |
Tori Amos Penyuka Metal Juga |
“Terkadang kau tak tahu bagaimana musik mempengaruhi manusia. Aku
menggandengnya karena aku tak berpikir hanya karena bicara sisi
emosional. Berikutnya aku akan ada di panggung secara menggila dan
bertenaga bersama band heavy metal di panggung manapun di dunia ini. Dan
aku akan terus membuat penonton terus berheadbang,” kata Tori Amos.
“Meski usiaku sekarang 48 tahun, namun aku yakin mereka percaya aku
dapat melakukannya karena emosi memiliki kekuatan seperti halnya
metalhead. Kegilaan tidak bisa menyentuh jiwa dan ini akan menjadi
pemenang setiap musibah datang,” ujarnya lagi.
Sementara itu, di postingan bawah kalian dapat melihat setidaknya
bagaimana kecintaan Tori Amos mendengar musik metal. Tahun 2001, Tori
Amos merilis album “Strange Little Girls”. Album pengkoveran ini salah
satunya berisi lagu milik thrash metal legendaris SLAYER dengan mengkover ‘Raining Blood’.
Dan sebagai gitaris SLAYER, Kerry King mengaku cukup
aneh dengan lagunya yang dijadikan versi pop tersebut. “Aku butuh waktu
sekitar satu setengah menit untuk mengenal lagu itu memang lagu kami.
Ini menakutkan. Kalau dia tak pernah berbicara ke kami, kami mungkin
tidak akan pernah tahu,” kata King.
[berontakzine.com]
Subscribe to:
Comments (Atom)


