Thursday, September 29, 2011

Jakarta Noise Fest #3

Wasted Rockers mempersembahkan
“Jakarta Noise Fest #3″

with:
01. MALAIKAT DAN SINGA [Olympia, Washington, USA]
Bekas personil band Old Time Relijun yang kini bersolo karir. Arrington De Dionyso sejak tahun 2006 sudah merilis empat buah album di bawah “the legendary” K Records, yang dua di antaranya total memakai Bahasa Indonesia, yakni Malaikat dan Singa (2009) dan Suara Naga (2011). Sejak tahun 2009 Arrington tampil dengan nama panggung / maupun nama band Malaikat dan Singa. Musisi no-wave / grime / post-punk / xprmntl hip-hop asal Olympia ini akan tampil di negara yang menjadi salah satu sumber inspirasinya dalam bermusik.

02. KHURUKSETRA [Jakarta]
Proyek tribal / ethnic influenced drone-doom-black-ambient-harsh-noise bentukan personil Kalimayat dan unit dreampop / slow-core Whisper Desire. Kolektif ini sudah beberapa kali tampil di Australia dan Singapura. Pertunjukan terakhir mereka tahun 2009 di Teater Salihara berhasil membuat banyak orang menobatkan diri sebagai penggemar baru Khuruksetra.

Sebuah kelompok musik mahabahaya yang terdiri dari Wukir Suryadi (seorang musisi tradisional asal Malang yang membuat alat musik sendiri yang ia beri nama “Bambuwukir”) dengan Rully Shabara (vokalis dari band math-rock / experimental-rock ternama Yogyakarta, Zoo). Bersama mereka menciptakan musik yang kental dengan nuansa tribal, etnik, gelap dan primitif. Rilisan album kolaborasi mereka di Yes No Wave banyak mendapat ulasan positif di berbagai media.

04. SPACE SYSTEM [Jakarta] 
Duo eclectic electronic music asal Jakarta. Duo yang menjadi artis andalan di Space Records ini menggabungkan segalanya, mulai dari: EDM, psychedelic, jazz, funk, new-wave, dub, world-music sampai experimental music. Sudah merilis album berjudul Nature pada tahun 2009 juga beberapa single vinyl yang dirilis oleh beberapa label luar negeri. Selain itu Space System juga pernah tampil live di Esplanade, Singapura pada tahun 2010.

05. TERBUJURKAKU [Surabaya] 
Musisi electronic yang nyeleneh dan eksentrik asal Surabaya. Terbujur Kaku banyak bermain di wilayah gabber, jungle, breakcore, crazy drum n bass, hard house, happy hardcore. Album remix karya Terbujur Kaku berjudul Megamix Album: Koplo Goes to Breakcore yang dirilis pun menjadi bahan perbincangan dan debat panjang di forum Wasted Rockers, karena menggabungkan drum n bass / gabber dengan koplo / dangdut pantura, suatu hal yang tak lazim dilakukan di scene EDM maupun IDM lokal pada umumnya.

06. VICKYVETTE [Bandung] 
Art-rock / neo-prog / space-rock / neo-psychedelia asal Bandung. Band ini merupakan salah satu finalis festival musik indie ternama Indonesia beberapa tahun yang lalu. Pada awal tahun 2010 Vickyvette merilis EP berjudul Unconscious Shimmering yang mencuri perhatian beberapa pihak, hingga akhirnya di single-album Into The Universe yang dirilis enam bulan akhir 2010, musikalitas band ini mendapatkan pengakuan dari banyak pengamat musik. Penasaran? Unduh albumnya di sini.
Visual by: 20 / 20 SIGHTSCENERY

Sabtu, 8 Oktober 2011
18:00 WIB – selesai

Bara Futsal
(ruang galeri seni)
Jl. Falatehan No.68
Blok M
Jakarta-Selatan
* Lokasi gedung di samping halte busway Terminal Blok M

HTM: Rp10 ribu

Acara ini didukung oleh:
- Yes No Wave
- Space Records
- Provoke! magazine
- Deathrockstar
- Johnny Zebra
- Rebelzine
- Jurnallica
- Addicted Area
- Berisik Radio
- Geeks Bible
- Gigs Play
- Primitif Zine
- Area XYZ
- Bitterdict

Burgerkill "Venomous Alive" : We Want More (Like This..!!)

Sekitar sepuluh ribu anak muda berpakaian hitam-hitam, Sabtu (24/9) memadati stadion Siliwangi Bandung, tentu saja mereka bukan bermaksud menonton pertandingan sepak bola, tetapi mereka bermaksud untuk menyaksikan sebuah band yang telah 16 tahun malang-melintang mengarungi skena musik metal Tanah Air. Adalah  Burgerkill, band yang telah menjadi fenomena global ini, sabtu yang lalu mengadakan konser tunggal sekaligus perayaan telah diluncurkannya album baru atau album ke empat mereka yang berjudul “Venomous”.
Dengan tajuk konser “Venomous Alive”, Burgerkill  sukses memuaskan nafsu para begundal akan musik Burgerkill yang belakangan ini begitu langka untuk didengar dan disaksikan secara live di kota Bandung. Konser dibuka sekitar pukul 15.30 WIB, Man Jasad, selaku Master of Ceremony membukanya dengan berbagai wejangan dan himbauan untuk para begundal yang hadir di venue agar ikut menjaga keamanan dan ketertiban selama berlangsungnya konser. Setelah itu, dua big screen di kiri dan kanan panggung memutar  video clip single dari album “Venomous” yang berjudul  “Only The Strong”. Riuh-rendah penonton mulai terdengar tak lama setelah video clip diputar, satu persatu para personil Burgerkill mulai memasuki panggung yang cukup megah meski didominasi warna hitam.
Tanpa basa-basi mereka langsung menghentak dengan “Age of Versus” dilanjutkan dengan “Under The Scars”, sontak ribuan begundal yang sedari siang menunggu, tanpa ragu untuk memulai moshing di arena pit. Setelah itu, Vicky sang vokalis sembari menghela nafas menyapa puluhan ribu begundal yang hadir, ia menyatakan sangat senang dan bangga Burgerkill bisa kembali bermain di Bandung.  “Hari ini sangat bersejarah, karena ini pertamakalinya Burgerkill konser di Bandung (lagi,red),”  ungkap Vicky.
Hari itu memang menjadi hari yang bersejarah nantinya, dimana sebuah konser metal berhasil kembali digelar di Kota Bandung paska tragedi AACC. Seperti yang kita ketahui bersama paska tragedi tersebut skena musik underground khususnya musik metal terkena imbasnya karena kesulitan untuk mendapatkan ijin dari aparat berwenang untuk membuat acara di Kota Bandung.
Dalam konsernya kali ini, Burgerkill membawakan banyak lagu dari album baru “Venomous”, meskipun begitu nomor-nomor andalan dari tiga album terdahulu mereka seperti “Rendah” (album Dua Sisi, 2000), “Penjara Batin”, “Tiga Titik Hitam” (album Berkarat, 2003),  “Shadow of Sorrow”, “Darah Hitam Kebencian” (album Beyond Coma And Despair, 2006) mereka sajikan untuk para begundal.  Raungan sound yang begitu menggelegar mengajak para penonton untuk moshing, crowd surfing, headbanging sampai dengan circle pit semuanya tercipta dan menjadi wujud keceriaan bagi para begundal akan konser Burgerkill di sore hari itu. Tanpa ada perkelahian, semuanya berlangsung aman penuh dengan suka cita.
Stadion Siliwangi dulunya merupakan kandang dari tim Persib Bandung, lagu “For Victory”  dalam konsernya ini Burgerkill persembahkan untuk tim kebanggaan kota Bandung tersebut dan untuk pendukung setianya Viking. Lagu penuh semangat yang semakin membakar jiwa para begundal untuk terus ugal-ugalan.
“Darah Hitam Kebencian”, “Angkuh” dan “We Will Bleed” menjadi sajian berikutnya, seakan tanpa henti membuat para begundal serasa mempunyai energi lebih untuk terus beradu fisik di arena pit.
Setelah kurang lebih satu jam begundal-begundal itu ‘dihajar’ oleh Eben dkk.  Kini para begundal dibuat termenung dan penuh rasa haru ketika dilayar muncul video tentang almarhum Ivan ‘Scumbag’ Firmansyah. Sosoknya telah lama tiada, tetapi semangatnya masih tetap terasa di Burgerkill. “Kita yakin Alm. Ivan hadir di tengah-tengah kita saat ini”, Ujar Vicky sang vokalis dengan rasa haru.
Vicky memberikan warna lain dalam konser ini, setelah penayangan video tersebut ia memainkan jari-jemarinya diatas tuts piano mengiringi lagu “Tiga Titik Hitam”, lalu muncullah Fadly vokalis Padi  yang dulu memang  featuring dengan Burgerkill dalam album “Berkarat”. Karakter vokal Fadly yang tinggi dan pembawaannya yang penuh penghayatan, menciptakaan koor yang luar biasa dari para begundal, sungguh merinding mendengarnya. Amazing!
Setelah dibawa mengharu-biru oleh Burgerkill, para begundal diajak untuk kembali liar melalui lagu “Only The Strong”, single dari album “Venomous” dilanjutkan dengan kemunculan vokalis Seringai Arian 13 yang membawakan lagu “Atur Aku”,  sebuah tembang fenomenal dari band terdahulunya Puppen yang di aransemen ulang oleh Burgerkill. Lagu ini merupakan nomor terakhir dari Burgerkill, Arian lalu mengajak para begundal untuk semakin liar, semakin brutal, walhasil terciptalah sebuah circle pit berukuran raksasa. Sungguh sore di akhir pekan yang luar biasa!
Suksesnya konser “Venomous Alive” ini semoga menjadi sinyalemen positif bagi aparat berwenang bahwa konser metal itu damai! tidak selalu berhubungan dengan kekerasan atau menjadi biang kericuhan. Buktinya sejak acara dimulai hingga konser selesai, para begundal benar-benar tertib sampai meninggalkan venue. Dan kedepannya semoga segala perijinan mengenai event indie / underground dipermudah,  serta menjadi trigger bagi event organizer ataupun band lainnya untuk membuat acara yang serupa. WE WANT MORE (LIKE THIS)!!

Di Amerika, Rilisan Debut RISE TO REMAIN Tertunda

London, Inggris - Debut album RISE TO REMAIN, “City Of Vultures” memang sudah beredar resmi sejak 5 September lalu namun itu untuk kawasan Eropa. Untuk wilayah Amerika album milik anak kandung vokalis IRON MAIDEN tersebut kabarnya kembali ditunda perilisannya menjadi 24 Januari 2012 dari tanggal edar 11 Oktober yang direncanakan sebelumnya.


Mungkin mengingat nama besar Bruce Dickinson, RISE TO REMAIN sering dianggap sebagai salah satu band metal Inggris yang akan dapat berbuat banyak di scene metal dunia. Apalagi di jejaring media twitter, band bervokaliskan Austin Dickinson itu tahun lalu beberapa kali muncul sebagai trending topic.
Bukan hanya itu, Metal Hammer Golden Gods memberi penghargaan sebagai “Best New Band” sedangkan Kerrang! Awards memberi kampiun sebagai “Best British Newcomer”.
“Aku harap banyak orang suka dengan album ini terutama dari rilisan band muda karena diluar sana memang sudah banyak yang melakukannya,” kata Dickinson.
City Of Vultures” diproduseri Colin Richardson, orang yang memang sudah pengalaman menangani beberapa album band metal papan atas diantaranya milik SLIPKNOT dan juga AS I LAY DYING. Album ini berisi 12 lagu termasuk satu intro dengan total durasi sekitar 45 menit.
Untuk pendengar metal Indonesia, jika masih ingat konser IRON MAIDEN awal tahun lalu di Jakarta tentu nama RISE TO REMAIN menjadi tidak asing karena mereka menjadi pembuka tunggal di event yang digelar di Pantai Karnaval Ancol tersebut. Selain itu RISE TO REMAIN juga terbilang kenyang pengalaman panggung karena pernah menggelar tur Eropa bersama IRON MAIDEN, BRING ME THE HORIZON, BULLET FOR MY VALENTINE dan beberapa band penting lainnya termasuk tampil di Download Festival dan Sonisphere Festival. 

 
 




Tuesday, September 27, 2011

Kabar OBSCURA Tampil Di Dubai

Dubai – Band progressive death metal Jerman, OBSCURA untuk pertama kalinya tampil di Dubai sebagai bagian tur Asia Tenggara & Timur Tengah mereka sekaligus mendukung penjualan album baru, “Omnivium“.
Dan berikut foto-foto live mereka ketika tampil di Dubai yang diposting dari roldanmacanhiya. Jangan lupa OBSCURA juga akan tampil di Medan tanggal 1 Oktober nanti tepatnya di Tapian Daya, Pondok Kelapa (PRSU) Medan dengan tiket Rp.125.000.- on the spot. Akan ada juga band pembuka yakni FOREDOOM, CRANIUM dan DJIN.
[berontakzine.com]









Monday, September 26, 2011

Karawang Metal Fest #3 "Siapa Bilang Kami Sudah Mati..?"

Saya mohon maaf sebelumnya karena baru ngereview acara Karawang Metal Fest #3 minggu 18 September 2011, ok langsung aja bray…!!

 
Seperti biasa acara molor sampai 12.30 siang dari semula di jadwalkan pukul 10.00, di karenakan kurang  professionalnya band peserta yang bermain di awal acara, kurang lebih hampir pukul  13.00 acara baru di mulai walau cuaca agak panas (bukan agak lagi tapi puuanass), pada akhirnya Opposite Day salah satu band Hardcore karawang membuka gelaran Karawang Metal Fest #3 dengan mengusung 3 buah lagu, di lanjutkan dengan Fuck My head.

Cuaca agak redup dan awan menjadi mendung yang cuma sebentar dan hujan pun tak jadi turun.. huh.. (tapi repot juga kalo hujan), disusul oleh Karat (Bukan Karinding Attack-Bandung) dengan kostum bertopeng, setelah Karat  ada The Last Burning di belakang mereka ada Butterlies dua cover dari Lamb of God di libasnya, di lanjut band dengan nama yang unik Aya Aya Wae yang lumayan membuat penonton berkumpul di tengah-tengah mosh pit. 

Menjelang sore ada Brain Disorder menghantam beberapa cover dari Burgerkill setelah itu ada band brutal death metal dari Jakarta Devour The Damned langsung menghentakan beberapa lagunya, suasana sore dan tidak terlalu panas para metal head di suguhi oleh tontonan kesenian sunda yang di bawakan oleh teman-teman dari Sapu Jagad seperti Celempung, Karinding, Suling yang membuat acara Karawang Metal Fest #3 berbeda dari sebelumnya, selanjutnya ada band deathmetal dari bekasi Decry Victims di ikuti oleh Babi Muntah salah satu band Brutal Deathmetal yang ada di Karawang, di penghujung sore sebelum rehat maghrib ada Symphony Hitam dan setelah itu acara rehat kurang lebih 1,5 jam dan di mulai kembali pukul 19.30 WIB.

Setelah Rehat yang cukup lama acara di lanjut kembali dengan penampilan pertama dari Riewa di geber kembali oleh Jeproot di lanjut oleh Jeritan Iblis  di susul kembali oleh band Old school Hardcore Karedock leunca selanjutnya ada band nyiksa diri di hantam kembali di hari yg sudah semakin gelap oleh Before Tomorrow berlanjut lagi dari penampilan Nerro.

Setelah penampilan dari Nerro penampilan dari Beside band metal dari bandung dengan promo lagu barunya membuat suasana menjadi kian mantap setelah beside ada Pantoera band progressive metal yg di tunggu tunggu dari tadi oleh para metal head karawang dengan single covernya “Jablay From Hell” di lanjut oleh band death metal yg sudah malang melintang di dunia  bawah tanah Kolobos 5 lagu di suguhkan dengan brutal. 

Akhirnya jam sudah menunjukan pukul 10.30 WIB dan Karawang Metal Fest #3 pun berakhir acara yg membuat komunitas di karawang tetap bertahan dan mdah-mudahan acara seperti ini terus berlanjut di daerah-daerah karawang dan sekitarnya sampai ketemu lagi di acara metal fest selanjutnya di kota karawang…. Keep support your local scene… salut buat anak-anak karawang


Burgerkill Sudah Melunasi Semua Kewajiban

MEREKA SUDAH LAYAK DITAHBISKAN SEBAGAI BAND TERBAIK DI TANAH AIR. DAN KEMARIN MEREKA BARU SAJA MELUNASI SEBUAH KEWAJIBAN PENTING.


GOD DAMN… konser itu tidak meleset satu derajat pun dari ekspektasi. Konsep yang digodok dengan sangat anjrittt menghasilkan suguhkan yang anjrittt pula. Histeria massal terus menggelora dari lagu ke lagu. Kaki para begundal pun seperti dipaku di atas rumput Stadion Siliwangi ketika Vicky, Eben, Agung, Ramdhan, dan Andris, menyudahi Venomous Alive tepat ketika jarum jam menjejak di titik 17.30 WIB, Sabtu (24/9) itu. Sebagian dari mereka masih bertahan sampai hari habis ditelan malam, padahal seluruh personel Burgerkill sudah lama menghilang dari atas panggung.

Apa mau dikata, Burgerkill memang sudah lama dikenal sebagai biang kesempurnaan. Mereka seolah-olah tidak pernah membikin sesuatu yang tidak bagus. Album Venomous adalah sebuah katarsis yang sangat elegan untuk menanggalkan identitas lama Burgerkill yang amat lekat dengan sosok Ivan Scumbag, dan bersulih jadi Burgerkill baru yang tidak kalah keren. Dan, suguhan mereka dalam balutan Venomous Alive di Stadion Siliwangi itu boleh diibaratkan sebuah ejakulasi maksimal dalam rangkaian morse seksualitas sejak album pertama itu baru serupa rumor sampai mengejawantah jadi bentuk kepingan CD.

Tentu saja Burgerkill teramat layak merasa puas dengan ejakulasi yang mereka alami di atas rumput Stadion Siliwangi petang itu. Dan pula semua yang hadir, termasuk orang tua dan keluarga besar masing-masing personel. Sebab, dengan Venomous Alive, Burgerkill telah menunaikan satu kewajiban penting sebagai sebuah band besar, yakni menggelar konser tunggal.

Tidak ada sedikit pun spasi yang membuat Venomous Alive harus mendapat kredit negatif. Sebab, kalaupun ada, itu pasti bakal tertutupi oleh aksi tuntas Burgerkill selama dua jam lebih. Penonton seperti merasa masih lapar ketika Burgerkill menyuguhkan santapan terakhir berupa kolaborasi anjisss dengan Arian 13 saat membawakan lagu Atur Aku. Dan itulah tanda-tanda bahwa apa yang mereka sajikan — jika diibaratkan sebuah pesta jamuan makan —- semuanya serba lezat.

Dengan Venomous Alive barangkali Burgerkill tak perlu lagi melakukan apa pun untuk tetap mempertahankan imej mereka sebagai band metal terbaik sepanjang masa di negeri ini. Namun, bukan Burgerkill jika merasa puas dengan apa yang mereka genggang hari ini. “Tentu saja kami sangat sangat sangat puas dengan pencapaian ini. Tapi, kami tidak akan berpuas diri,” ucap Eben usai konser.

Eben kemudian menuturkan sejumlah mimpi yang bakal mereka rajut setelah merilis Venomous dan menggelar ritual istimewa dalam rangka peluncuran album tersebut. Salah satunya ingin mengembangkan sayap Burgerkill jadi band internasional. “Mungkin sudah waktunya kita memikirkan sesuatu yang lebih besar lagi. Kami ingin juga diakui di dunia yang lebih luas,” imbuh Eben.

Lho bukankah selama ini mereka sudah pernah menggelar tur Asia Tenggara dan mengecap panggung internasional seperti Soundwave Festival 2009 serta Big Day Out 2010 di Australia? “Belum! Kami belum puas dengan itu. Kami ingin juga merambah Eropa dan Amerika. Dan kami merasa mampu untuk melakukannya. Hidup itu harus rock n roll, brader. Jika kita tidak merasa yakin dengan kemampuan kita, maka kita tidak akan bisa meraih apa yang kita impikan,” sembur Eben lagi.

SEBUAH PENTAHBISAN

Lalu apa makna paling penting Venomous Alive buat Burgekill? Yeahhh… sosok ini adalah orang paling tepat untuk dijadikan tempat bertanya: Arian 13. Mantan vokalis Puppen yang sekarang mengibarkan penjor Seringai ini termasuk salah satu orang yang ada di samping Burgerkill sejak band ini meniti karir. Tapi, Arian tetaplah ‘orang luar’ yang bisa menyodorkan perspektif lebih obyektif mengenai Burgerkill hari ini, khususnya untuk album Venomous dan Venomous Alive.

“Di mata saya Burgerkill adalah band goreng patut! Sudah itu saja!” ungkap Arian. “Hahahaha… heureuy bray!” tambah Arian sambil tergelak. 

Di mata Arian, Burgerkill sudah memenuhi seluruh aspek untuk ditahbiskan sebagai salah satu band metal terbaik di tanah air. “Apa mau dikata, mereka sudah memiliki dan melakukan semuanya sebagai sebuah band,” cetus Arian. 

Kalaupun ada yang harus dikritik, menurut Arian, adalah soal waktu pencapaian tersebut. “Dari dulu saya sudah yakin Burgerkill akan jadi band besar. Tapi seharusnya mereka sudah mencapai apa yang mereka gapai hari ini ketika umur Burgerkill menginjak bilangan ketujuh. Bukan 16 tahun seperti sekarang,” papar Arian. 

Namun, Arian bisa mentolerir urusan waktu tersebut. Sebab, lanjut Arian, ada sejumlah variabel yang membuat Burgerkill baru bisa mencapai level kesuksesan ketika menginjak usia 16 tahun. “Kita tahu sendiri bagaimana sikap lingkungan kita terhadap band-band seperti Burgerkill. Andai saja Burgerkill tumbuh di habitat yang mampu memberikan dukungan lebih baik, mereka sudah mencapai level kesuksesan seperti ini sepuluh tahun lalu. Masih untung juga Burgerkill punya kekuatan luar biasa untuk menyiasati seluruh persoalan tersebut dan hari ini mereka mencapai titik seperti ini,” terang Arian. 

Jika Burgerkill sudah memiliki dan melakukan semuanya, lalu apa lagi yang harus mereka perbuat di hari esok? “Secara musik mereka tetap harus melakukan perubahan. Tentu saja bukan dalam rangka kompromi, melainkan untuk sebuah tuntutan progres. Sebab bagaimanapun perubahan adalah progres,” tandas Arian.