Tuesday, October 4, 2011

Tandang Makalangan

LEBIH luas, terjangkau, dan masih berada di Bandung. Itulah alasan yang dianggit panitia saat memilih Lapangan Pussenkav Kavaleri, Jalan Turangga, Bandung, untuk menggelar gigs multigenre Tandang Makalangan. “Kita ingin mencari alternatif supaya gigs tidak terus-terusan digelar di Cimahi. Katanya sih Lapangan Kavaleri siap terbuka untuk teman-teman yang ingin menggelar acara,” tutur Fajar dari Our Prove.

Untuk beberapa hal, Lapangan Kavaleri memang memiliki kelebihan dibanding Yon Armed. Yang paling utama tentu saja letaknya yang di tengah kota. Namun, Our Prove selalu penggagas acara juga tidak asal pilih tempat. Mereka sangat memperhitungkan segi keamanan.

Lalu, kita tengok apa yang bakal tersaji di panggung Tandang Makalangan? Our Prove tampaknya sadar betul dengan komposisi line up. Mereka menggandeng setumpuk band dengan bermacam genre. Mulai dari generasi Impish, Injected, Captain Cook, sampai Divinity dan Kids on Radio.

TANDANG MAKALANGAN
TEMPAT
Lapangan Pussenkav Kavaleri
Jalan Turangga

WAKTU
Minggu, 9 Oktober 2011
Pukul 09.00 – selesai

LINE UP
Impish
Injected
Buckskin Bugle
Blind To See
Power Punk
Captain Cook
Nothing New
Restrain
Saffar
Dismurder
Total Kontra
Dark Terror
Justa Life
Depravity Savage
Tears Of Joy
Minor Disturbance
Kids On Radio
Power Oxy
Kripik Kentang
Sad Story In Sunday
Divinity

HARGA TICKET
Pre-sale Rp 20.000
On the spot Rp 25.000




Monday, October 3, 2011

Obscura; Menghujam Kota Jakarta

Antiklimaks para pecinta musik cadas terpuaskan dengan datangnya band technical death metal asal bayern germany, OBSCURA yang sedang menaklukan beberapa kota di indonesia dan tempat pertama yang mereka jajah adalah marios place yang berlokasi di cikini, Jakarta. 

Band yang digawangi Christian Muen ( gitar ) Hanes Gross ( drum ) Steffen Kummerer ( guitar, vocals ) dan Jeroen Thesseling ( bass ) akan menjajah kota Surabaya ( 30 – 09 – 11 ), Medan ( 10 – 10 – 11 ), dan Makassar  ( 02 – 10 -11 ).

Obscura tampil sekitar pukul 9 malam dengan “Septuagint” yang menjari track pembuka, acungan 2 jari dengan teriakan lantang dari para metalhead yang datang malam itu membuat ke empat personil Obscura makin sadis dengan dibawakannya “The Anticosmic Overload” slam dan body contact terlihat jelas di depan stage, Stefeen yang bertugas sebagai gitaris dan vokal terlihat sangat piawai memainkan gitar berdawai 8, jari yang bebas menari dengan raungan vokal yang ganas juga di imbangi oleh Christian yang membius dengan gitar berdawai 7. technical tingkat tinggi.

Sekitar 9 lagu mereka bawakan dengan tanpa ampun, seperti “Incarnated”, “Vortexomnivium”, “Ocean Gateaways”, “Euclidean Element”, “Centric Flow,” mampu membuat semua metalhead yang datang malam itu terbelalak menyaksikan aksi 4 panser yang tanpa ampun membantai marios place malam itu, sound yang dihasilkan cukup mendukung, dan sesekali sang vokalis mengajak bertanya tentang album baru morbid angel yang ( ancurrrr ).

Dalama penampilan mereka tidak lupa pada penghujung acara aksi drum solo juga menjadi persembahan apik saat encore metalhead untuk lanjutan aksi mereka, permainan yang ditunjukkan Hannes Gros yang pernah memperkuat Necrophagist ini memang luar biasa, ga ada capeknya kayanya nih orang.

“The Orbital Element” dan “Universe Momentum” menjadi lagu terakhir mereka malam itu, walau tidak seperti band – band metal lain yang biasa membawakan sekitar 15 lagu tapi sedikit lagu yang mereka bawakan dengan mampu memberikan kepuasan malam itu, dan juga tidak salah dengan band jakarta yang di daulat untuk menjadi band pendamping malam itu, Revenge tampil fantastis, aksi dari RB, Bindra, Akbar, Awe dan juuga raja sangat membantu menrikan pemanasan telinga, terutama sang drumer Akbar yang cukup mencuri perhatian, permainan yang cepat dan rapat.

Sang promotor MAQNET yang di komandoi mr Adhi ini memang tidak sia – sia mendatang kan OBSCURA yang memang baru pertama kali datang ke jakarta, sukses untuk kota-kota yang akan menjadi saksi band asal negeri panser german ini. \m/


Monster Of Legend; Guncangan yang Hebat di Bulungan


Jakarta 25 September 2011 adalah kemarau terpanas di daerah Jakarta tepatnya di kawasan out door Bulugan. Panas terik matahari bulan September berbaur dengan 20 ribu watt tegangan tinggi sound system yang menendang-nendang kuping para metal head hari itu dalam event “MONSTER OF LEGEND” yang diadakan oleh BMQ Production.


Acara yang menurut rundown mulai pukul 11 siang molor hingga jam jam 1 kurang, bahkan band bekasi ASPHYXIATE sudah berada di lokasi jam 7.30 pagi untuk sound check ( kangan sama bulungan kali ya..?? ) untuk beberapa band yang tampil di acara ini memang tak semuanya terlihat maksimal, sound yang pilih – pilih menjadi hal yang sering di temui di setiap event lokal, ABABIL yang saat tampil lebih dominan ke vokal ketimbang yang lain, tapi berbeda telak saat RITUAL DOOM tampil, sound yang dihasilkan dari band old school ini terdengar garang, gempuran dari semua aspek alat hingga vokal arie juga dahsyat.

THRASHLINE, band pecahan personil lawas betrayer ini tampil dengan trademark mereka, bentangan garis kuning hitam terkait di front stage dan animo penonton yang datang juga cukup bagus, area yang hampir di padati dari beberapa daerah juga terdengar riuh, efek dari band doom gothic metal lawas asal kota Surabaya yaitu TOTAL TRAGEDY yang malam itu tampil sebelum JASAD, ASPHYXIATE tampil sebelum jeda magrib, sayang saat lagu awal mereka harus keteteran dengan sound yang kurang berpihak hingga mereka lanjut setelah magrib barulah sound mereka cukup terasa ganas.

DREAMER tampil dengan musik yang beda setelah di hajar oleh band brutal, mereka tampil dengan simpony dengan tempo yang selalu berubah – ubah begitu juga dengan band asal surabaya TOTAL TRAGEDYyang lama yang berbahaya, dengan musik yang berbeda dan penguasaan panggung yang apik mereka tampil memukau dan acara di tutup dengan penampilan band bandung JASAD, jangan di tanya soal band yang satu ini, drumer baru mereka cukup menyita perhatian, sama seperti ASPHYXIATE yang juga tampil dengan drumer baru, JASAD tampil apik dan juga total, sound yang terdengar nyaman di telinga.

Setiap band yang tampil memainkan semua karya andalan mereka dengan sangat baik, maximal dan powerfull. Bulungan tidak berhenti berguncang dari siang hingga malam dan semua metalhead terlihat puas juga terhibur atas performa dari 14 monster-monster yang menggasak keras, cepat dan padat.

Walau sedikit tragis karena setelah event Rock In Solo lagi-lagi Indonesia dilanda Terror bomb. Sebuah situasi yang berdampak negative dan mampu menghambat laju perkembangan komunitas metal di Indonesia. Himbauan damai juga tidak bosan-bosan disampaikan dari Alay Error yang menjadi MC di acara Monster Legend kemarin untuk mengkedepankan “Keras tapi bukan kekerasan”.

Komunitas yang kecil akan menjadi besar tergantung kita yang ada didalamnya. Semoga Gejolak music metal tanah air akan terus bisa jaya dari generasi ke generasi dan melahirkan monster-monster baru yang akan menjadi legend untuk masa yang akan datang.

sukses untuk BMQ yang telah berhasil melaksanakan gelaran di outdoor bulungan. hellyeah!


Godless Symptoms Tak Akan Pernah Berhenti

DISTORSI. HANYA ITU YANG MEREKA YAKINI. DAN MALAM ITU, GODLESS SYMPTOMS MENGUCAP IKRAR TAK AKAN PERNAH BERHENTI MENEBAR SUKA CITA LEWAT DISTORSI YANG MEREKA YAKINI.
SEKALI lagi, kata anjing bertebaran sekerap hilir mudiknya oksigen ke lubang tenggorokan dan paru-paru dari mulut seorang MC bernama Reggi Kayong. Dan mudah diterka, itu adalah tengara bahwa sebuah pesta tengah digelar. Bukan sekadar pesta hura-hura tanpa makna, melainkan pesta penanda delapan tahun eksistensi sebuah band bernama Godless Symptoms.

Delapan! Hitungan ini jelas tidak seberapa jika dibandingkan bilangan umur dunia ini. Tapi, bagi sebuah keluarga bernama Godless Symptoms, bilangan delapan memiliki sejuta makna. Sebab, delapan bundel kalender buat mereka adalah tetesan keringat dan perjuangan. Karena itulah, mereka merasa harus menandai milad kedelapan dengan sebuah perayaan sederhana namun bermakna.

Malam itu, di sebuah tempat kecil bernama Rogers Café, Godless Symptoms tidak hanya menjadi tuan rumah yang baik bagi kerabat yang datang untuk sekadar mengucap selamat. Godless Symptoms juga telah menebar spirit bagi siapa pun yang sampai detik ini menjejakkan kaki di atas tanah bernama scene Bandung Underground. “Dan kita tidak akan pernah berhenti di sini,” teriak Barus dari balik corong mikropon.
Ahhh… melihat apa yang berlangsung di ruang redup Rogers Café malam itu rasanya kita tidak lagi memerlukan tempat seperti Yon Armed atau venue lain yang untuk menebusnya kita harus melakukan banyak hal, mulai dari ritual makan kembang sampai menyayat urat nadi sendiri tanda kita siap mengabdikan nyawa untuk sebuah frasa bernama ketertiban umum.

Seperti mafhum apa yang harus dilakukan, Godless Symptoms rupanya telah menyiapkan tidak kurang dari selusin resital untuk menjamu saudara yang datang ke perayaan delapan tahun eksistensi mereka di musik bawah tanah kota ini. Begitu corong mikropon tuntas dimaki-maki gerombolan Eyefeelsix — lalu kemudian sebentar berada di tangan Butche Mario dan Gebeg yang melakukan battle sarkasme nan memikat, Godless Symptoms langsung menggebrak dengan nomor Tak Ada Bendera Putih.

Jangan pernah membayangkan kegilaan apa yang berlangsung di atas lantai Rogers Café begitu lagu Tak Ada Bendera Putih . Sebab, kapasitas imajinasi kita mungkin tidak akan sampai untuk bisa menggambarkan kegilaan tersebut. Kegilaan itu hanya bisa dirasakan.

Seluruh pengunjung yang hadir malam itu mungkin tak akan pernah menggubris lagu apa yang dibesut Godless Symptoms. Toh, mereka hadir ke Rogers Café malam itu bukan semata-mata untuk mendengarkan lagu. Melainkan lebih dari itu. Maka tak heran bila Ritus Penutup, Dominasi Zombie, Rusak Bumi, Ratakan Tirani, dan Arogansi, seperti memiliki makna sama buat seluruh pengunjung. Seluruh lagu adalah kegilaan.
Terlebih lagi ketika dua kata mengelupas dari lidah barus: Kerajaan Ilusi. Saat itulah kegilaan seperti hendak mencapai ajal. Namun, Kerajaan Ilusi ternyata tidak menjadi rajah dominan malam itu. Flower City dan Kuya Ngora justru yang jadi anthem pengikat. Rasanya kita tidak akan pernah menyaksikan di gigs lain sebuah lagu sampai dibawakan tiga kali.

Pengunjung rupanya masih memiliki spirit tempur segunung ketika Godless Symptoms mengumandangkan Anjing Iblis sebagai rajah pamungkas. Mereka pun memaksa Barus dan kawan-kawan tetap berada di stage. Tak mau mengecewakan saudara, Godless Symptoms pun kembali membawakan ulang Flower City dan Kuya Ngora sekali lagi. Ternyata itu tidak cukup. Pengunjung masih meminta lebih. Dan Godless Symptoms pun kembali menghajar Kuya Ngora.

Hari ini 46 tahun lalu, negera kita mengalami revolusi. Tapi malam itu, Godless Symptoms menggelar revolusi sendiri. Wilujeng milad, Godless Symptoms!


Thursday, September 29, 2011

Jakarta Noise Fest #3

Wasted Rockers mempersembahkan
“Jakarta Noise Fest #3″

with:
01. MALAIKAT DAN SINGA [Olympia, Washington, USA]
Bekas personil band Old Time Relijun yang kini bersolo karir. Arrington De Dionyso sejak tahun 2006 sudah merilis empat buah album di bawah “the legendary” K Records, yang dua di antaranya total memakai Bahasa Indonesia, yakni Malaikat dan Singa (2009) dan Suara Naga (2011). Sejak tahun 2009 Arrington tampil dengan nama panggung / maupun nama band Malaikat dan Singa. Musisi no-wave / grime / post-punk / xprmntl hip-hop asal Olympia ini akan tampil di negara yang menjadi salah satu sumber inspirasinya dalam bermusik.

02. KHURUKSETRA [Jakarta]
Proyek tribal / ethnic influenced drone-doom-black-ambient-harsh-noise bentukan personil Kalimayat dan unit dreampop / slow-core Whisper Desire. Kolektif ini sudah beberapa kali tampil di Australia dan Singapura. Pertunjukan terakhir mereka tahun 2009 di Teater Salihara berhasil membuat banyak orang menobatkan diri sebagai penggemar baru Khuruksetra.

Sebuah kelompok musik mahabahaya yang terdiri dari Wukir Suryadi (seorang musisi tradisional asal Malang yang membuat alat musik sendiri yang ia beri nama “Bambuwukir”) dengan Rully Shabara (vokalis dari band math-rock / experimental-rock ternama Yogyakarta, Zoo). Bersama mereka menciptakan musik yang kental dengan nuansa tribal, etnik, gelap dan primitif. Rilisan album kolaborasi mereka di Yes No Wave banyak mendapat ulasan positif di berbagai media.

04. SPACE SYSTEM [Jakarta] 
Duo eclectic electronic music asal Jakarta. Duo yang menjadi artis andalan di Space Records ini menggabungkan segalanya, mulai dari: EDM, psychedelic, jazz, funk, new-wave, dub, world-music sampai experimental music. Sudah merilis album berjudul Nature pada tahun 2009 juga beberapa single vinyl yang dirilis oleh beberapa label luar negeri. Selain itu Space System juga pernah tampil live di Esplanade, Singapura pada tahun 2010.

05. TERBUJURKAKU [Surabaya] 
Musisi electronic yang nyeleneh dan eksentrik asal Surabaya. Terbujur Kaku banyak bermain di wilayah gabber, jungle, breakcore, crazy drum n bass, hard house, happy hardcore. Album remix karya Terbujur Kaku berjudul Megamix Album: Koplo Goes to Breakcore yang dirilis pun menjadi bahan perbincangan dan debat panjang di forum Wasted Rockers, karena menggabungkan drum n bass / gabber dengan koplo / dangdut pantura, suatu hal yang tak lazim dilakukan di scene EDM maupun IDM lokal pada umumnya.

06. VICKYVETTE [Bandung] 
Art-rock / neo-prog / space-rock / neo-psychedelia asal Bandung. Band ini merupakan salah satu finalis festival musik indie ternama Indonesia beberapa tahun yang lalu. Pada awal tahun 2010 Vickyvette merilis EP berjudul Unconscious Shimmering yang mencuri perhatian beberapa pihak, hingga akhirnya di single-album Into The Universe yang dirilis enam bulan akhir 2010, musikalitas band ini mendapatkan pengakuan dari banyak pengamat musik. Penasaran? Unduh albumnya di sini.
Visual by: 20 / 20 SIGHTSCENERY

Sabtu, 8 Oktober 2011
18:00 WIB – selesai

Bara Futsal
(ruang galeri seni)
Jl. Falatehan No.68
Blok M
Jakarta-Selatan
* Lokasi gedung di samping halte busway Terminal Blok M

HTM: Rp10 ribu

Acara ini didukung oleh:
- Yes No Wave
- Space Records
- Provoke! magazine
- Deathrockstar
- Johnny Zebra
- Rebelzine
- Jurnallica
- Addicted Area
- Berisik Radio
- Geeks Bible
- Gigs Play
- Primitif Zine
- Area XYZ
- Bitterdict

Burgerkill "Venomous Alive" : We Want More (Like This..!!)

Sekitar sepuluh ribu anak muda berpakaian hitam-hitam, Sabtu (24/9) memadati stadion Siliwangi Bandung, tentu saja mereka bukan bermaksud menonton pertandingan sepak bola, tetapi mereka bermaksud untuk menyaksikan sebuah band yang telah 16 tahun malang-melintang mengarungi skena musik metal Tanah Air. Adalah  Burgerkill, band yang telah menjadi fenomena global ini, sabtu yang lalu mengadakan konser tunggal sekaligus perayaan telah diluncurkannya album baru atau album ke empat mereka yang berjudul “Venomous”.
Dengan tajuk konser “Venomous Alive”, Burgerkill  sukses memuaskan nafsu para begundal akan musik Burgerkill yang belakangan ini begitu langka untuk didengar dan disaksikan secara live di kota Bandung. Konser dibuka sekitar pukul 15.30 WIB, Man Jasad, selaku Master of Ceremony membukanya dengan berbagai wejangan dan himbauan untuk para begundal yang hadir di venue agar ikut menjaga keamanan dan ketertiban selama berlangsungnya konser. Setelah itu, dua big screen di kiri dan kanan panggung memutar  video clip single dari album “Venomous” yang berjudul  “Only The Strong”. Riuh-rendah penonton mulai terdengar tak lama setelah video clip diputar, satu persatu para personil Burgerkill mulai memasuki panggung yang cukup megah meski didominasi warna hitam.
Tanpa basa-basi mereka langsung menghentak dengan “Age of Versus” dilanjutkan dengan “Under The Scars”, sontak ribuan begundal yang sedari siang menunggu, tanpa ragu untuk memulai moshing di arena pit. Setelah itu, Vicky sang vokalis sembari menghela nafas menyapa puluhan ribu begundal yang hadir, ia menyatakan sangat senang dan bangga Burgerkill bisa kembali bermain di Bandung.  “Hari ini sangat bersejarah, karena ini pertamakalinya Burgerkill konser di Bandung (lagi,red),”  ungkap Vicky.
Hari itu memang menjadi hari yang bersejarah nantinya, dimana sebuah konser metal berhasil kembali digelar di Kota Bandung paska tragedi AACC. Seperti yang kita ketahui bersama paska tragedi tersebut skena musik underground khususnya musik metal terkena imbasnya karena kesulitan untuk mendapatkan ijin dari aparat berwenang untuk membuat acara di Kota Bandung.
Dalam konsernya kali ini, Burgerkill membawakan banyak lagu dari album baru “Venomous”, meskipun begitu nomor-nomor andalan dari tiga album terdahulu mereka seperti “Rendah” (album Dua Sisi, 2000), “Penjara Batin”, “Tiga Titik Hitam” (album Berkarat, 2003),  “Shadow of Sorrow”, “Darah Hitam Kebencian” (album Beyond Coma And Despair, 2006) mereka sajikan untuk para begundal.  Raungan sound yang begitu menggelegar mengajak para penonton untuk moshing, crowd surfing, headbanging sampai dengan circle pit semuanya tercipta dan menjadi wujud keceriaan bagi para begundal akan konser Burgerkill di sore hari itu. Tanpa ada perkelahian, semuanya berlangsung aman penuh dengan suka cita.
Stadion Siliwangi dulunya merupakan kandang dari tim Persib Bandung, lagu “For Victory”  dalam konsernya ini Burgerkill persembahkan untuk tim kebanggaan kota Bandung tersebut dan untuk pendukung setianya Viking. Lagu penuh semangat yang semakin membakar jiwa para begundal untuk terus ugal-ugalan.
“Darah Hitam Kebencian”, “Angkuh” dan “We Will Bleed” menjadi sajian berikutnya, seakan tanpa henti membuat para begundal serasa mempunyai energi lebih untuk terus beradu fisik di arena pit.
Setelah kurang lebih satu jam begundal-begundal itu ‘dihajar’ oleh Eben dkk.  Kini para begundal dibuat termenung dan penuh rasa haru ketika dilayar muncul video tentang almarhum Ivan ‘Scumbag’ Firmansyah. Sosoknya telah lama tiada, tetapi semangatnya masih tetap terasa di Burgerkill. “Kita yakin Alm. Ivan hadir di tengah-tengah kita saat ini”, Ujar Vicky sang vokalis dengan rasa haru.
Vicky memberikan warna lain dalam konser ini, setelah penayangan video tersebut ia memainkan jari-jemarinya diatas tuts piano mengiringi lagu “Tiga Titik Hitam”, lalu muncullah Fadly vokalis Padi  yang dulu memang  featuring dengan Burgerkill dalam album “Berkarat”. Karakter vokal Fadly yang tinggi dan pembawaannya yang penuh penghayatan, menciptakaan koor yang luar biasa dari para begundal, sungguh merinding mendengarnya. Amazing!
Setelah dibawa mengharu-biru oleh Burgerkill, para begundal diajak untuk kembali liar melalui lagu “Only The Strong”, single dari album “Venomous” dilanjutkan dengan kemunculan vokalis Seringai Arian 13 yang membawakan lagu “Atur Aku”,  sebuah tembang fenomenal dari band terdahulunya Puppen yang di aransemen ulang oleh Burgerkill. Lagu ini merupakan nomor terakhir dari Burgerkill, Arian lalu mengajak para begundal untuk semakin liar, semakin brutal, walhasil terciptalah sebuah circle pit berukuran raksasa. Sungguh sore di akhir pekan yang luar biasa!
Suksesnya konser “Venomous Alive” ini semoga menjadi sinyalemen positif bagi aparat berwenang bahwa konser metal itu damai! tidak selalu berhubungan dengan kekerasan atau menjadi biang kericuhan. Buktinya sejak acara dimulai hingga konser selesai, para begundal benar-benar tertib sampai meninggalkan venue. Dan kedepannya semoga segala perijinan mengenai event indie / underground dipermudah,  serta menjadi trigger bagi event organizer ataupun band lainnya untuk membuat acara yang serupa. WE WANT MORE (LIKE THIS)!!